Untuk Kamu Baca - 4

Malam itu angin sedang kasar-kasarnya menerjang daun sehingga mereka terjatuh. Satu demi satu daun pamit dari tempatnya bertumbuh untuk menuju tanah dan diinjak olehku. Begitulah aku, jika sedang menghadapi masalah yang cukup rumit, aku menjadi manusia kasar dan tidak peduli bahwa ada tulang daun yang patah olehku. 

Tenda belum berhasil kita dirikan dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kombinasi dingin dan takut membuat otakku sulit meramu tentang bagaimana caranya mendirikan tenda di lembah Mandalawangi ini. 

Kamu di depanku duduk sembari membolak-balikkan halaman buku manual dari tenda yang kita beli, katamu, "Seharusnya kita belajar dulu di rumah supaya ini gak kejadian."

Kubilang, "Seharusnya juga kita sabar dulu. Jangan langsung berkemah di sini. Kan di halaman rumah juga bisa."

Kamu tertawa kecil, "Yaaa, mana ada yang gladi resik dulu sebelum berkemah?"

Aneh memang. Seharusnya malam itu dingin yang merasuk ke tubuhku. Namun hanya dengan canggih tuturmu, sedikit demi sedikit kamu bisa menghangatkan tubuhku. 

Di bawah hamparan bintang-bintang yang berkedip, di antara belaian angin yang mulai jinak; kita akhirnya bisa tenang dan mendirikan tempat untuk beristirahat. Beberapa orang kemudian datang kepada kita. Mereka mengulurkan tangan, kita kemudian berjabat tangan, lalu obrolan pun dimulai. 

Seharusnya semua orang di semesta ini tahu bahwa beberapa orang yang datang itu berhati baik karena memberikan dua gelas wedang untuk kita teguk. Salah satu dari mereka bertanya, "Nyampe sini jam berapa, mas?."

Belum sempat kujawab, kamu mengambil alih, "Jam setengah sembilan." 

Setelah beberapa teguk wedang, setelah beberapa lemparan pertanyaan; mereka akhirnya masuk ke tenda yang mereka bawa dan dirikan di dekat tenda kita untuk beristirahat. 

Kamu ingat kan? Di depan tenda yang berhasil kita dirikan, kamu memeluk lutut sambil memandang cakrawala dengan lahap. Aku di sampingmu bersama kayu yang kubakar untuk menghangatkan kita pun ikut melakukan hal yang sama. Kamu membuka suara, "Indah sekali, ya."

Aku heran, "Apa yang indah sekali itu?." 

Sambil memandangmu aku berbicara, "Soalnya ada banyak hal yang indah di sini. Langit, api, bintang, batu, kayu, angin, dan kamu."

Kamu lalu tersenyum, aku melanjutkan, "..dan satu lagi, senyum kamu juga indah."

Kamu menopang pipimu, "Andai saja ada orang yang bisa membawa pulang langit beserta bintang dan angin. Atau membawa lembah Mandalawangi dan api dari kayu yang kamu bakar. Mungkin orang itu akan jadi orang yang paling bahagia."

"Tentu saja kamu akan cemburu karena orang itu adalah aku. Aku bisa membawamu bersama senyumanmu ke rumah."

Kita merebahkan badan. Aku lalu iseng menghitung bintang. Kamu di sebelahku sibuk mencari buku catatan kecil yang kita bawa. Setelah buku itu kamu genggam, kamu kemudian membuka dan berhenti tepat di halaman tempat kita menaruh mimpi. Dengan pena yang kamu ambil dari saku bajuku, kamu mencoret sebuah nama. Kamu mencoret lembah Mandalawangi dari daftar keinginan-keinginan kita dulu; kamu seakan memberitahu kepada kita yang dulu bahwa kita yang sekarang telah bisa melakukannya. Aku bergumam tentu saja, "Apabila nanti setelah kembali ke rumah dan aku mati. Maka teramat bahagialah aku karena berhasil kurebut kamu dan senyumanmu dari lembah Mandalawangi."

Komentar