Untuk Kamu Baca - 1

"Aku ingin mati saja." Kamu bilang dengan lirih. 

Aku tentu saja marah. Tidak, tidak marah padamu. Tidak marah kepada inginmu. Pun, tidak marah kepada kata yang kamu dengan percaya diri ucapkan. 

Tentu saja aku marah kepada diriku sendiri. 

Seharusnya dan selayaknya sebagai seseorang yang pernah berjanji akan menjagamu--aku harus bisa membuatmu paham dan mengerti bahwa putus asa adalah hal wajar dan kamu harus bangkit setelahnya. Tapi jika putus asa yang kamu terus datangi adalah berkat ketidakmampuanku dalam membuatmu kuat, tentu saja aku marah kepada diriku sendiri. Tentu saja.

Tapi kemudian aku sadar bahwa marah bukan sebuah solusi yang dapat mengantarkanmu kepada keinginan yang kamu lemparkan di depan matamu. Aku sadar dan paham betul bahwa setelah adanya masalah ini kamu harus berevolusi menjadi manusia yang dapat berjalan dengan gagahnya walau jauh sebelumnya seringkali patah. 

"Tenang." Kataku, "Tahun depan bisa coba lagi."

Kamu hanya menyeka air matamu dengan sesekali mencoba terseyum walau aku tahu bahwa itu sangat sulit dilakukan. Hidup bagiku adalah soal merelakan. "Kita harus bisa merelakan."

Tanganku yang kasar meraih badanmu lalu kupeluk. Aku mencoba berbisik, "Jangan mati dulu. Kita masih harus meraih mimpi."




Komentar

Posting Komentar