Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Tiba-tiba Main Podcast

Gambar
Lagi bengong dan pilek tiba-tiba kepikiran untuk membuat sesuatu. Langsung aja, ya, teman-teman. Dengerin Podcast saya dan teman saya--Robiatun Nihayah di Anchor, Youtube, Spotify, dan media lainnya. Silakan mendengarkan!
Klik untuk mendengarkan di Anchor atau Spotify! Atau bisa juga di kanal Youtube;

Untuk Kamu Baca - 4

Malam itu angin sedang kasar-kasarnya menerjang daun sehingga mereka terjatuh. Satu demi satu daun pamit dari tempatnya bertumbuh untuk menuju tanah dan diinjak olehku. Begitulah aku, jika sedang menghadapi masalah yang cukup rumit, aku menjadi manusia kasar dan tidak peduli bahwa ada tulang daun yang patah olehku. 
Tenda belum berhasil kita dirikan dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kombinasi dingin dan takut membuat otakku sulit meramu tentang bagaimana caranya mendirikan tenda di lembah Mandalawangi ini. 
Kamu di depanku duduk sembari membolak-balikkan halaman buku manual dari tenda yang kita beli, katamu, "Seharusnya kita belajar dulu di rumah supaya ini gak kejadian."
Kubilang, "Seharusnya juga kita sabar dulu. Jangan langsung berkemah di sini. Kan di halaman rumah juga bisa."
Kamu tertawa kecil, "Yaaa, mana ada yang gladi resik dulu sebelum berkemah?"
Aneh memang. Seharusnya malam itu dingin yang merasuk ke tubuhku. Namun hanya denga…

Untuk Kamu Baca - 3

Eh, kemarin aku gak sengaja lihat kamu lagi beli bubur kacang ijo di tempat yang dulu biasa kita datangi bersama. 
Pengen banget deh aku nyamperin kamu terus nanya, "Apa kabar?"
Tapi aku malu tahu. Lagipula, siapa aku?  
Pas aku lihat kamu, aku jadi inget banyak hal tentang kita. Tentang lagu yang kita sering dengar, tentang makanan yang sering kita beli, juga tentang simpul senyum yang sering kamu beri. 
Kemudian setelah ini aku jadi mikir, kalau kamu gak sengaja lihat aku di suatu tempat. Apakah kamu pengen nyamperin aku terus nanya kabar aku?

Untuk Kamu Baca - 2

Adalah kamu yang siang itu duduk di depanku dengan tenang. Aku yang hari itu uring-uringan seharusnya membuat orang yang di dekatku risih. Tapi kamu tidak. 
Entah di mana kamu belajar tentang menenangkan, aku tidak tahu. Namun yang pasti kamu telah melakukannya. Kamu hari itu jua mengajarkanku tentang sabar. Ketika ada orang yang merendahkanku, aku tentu saja ingin merasa tinggi. Aku tentu saja ingin melawan. 
Tapi kamu bilang, "Sudah, gak usah dipikirin." 
Kamu menjelaskan bahwa waktu yang kupakai tuk memikirkan perkatannya akan sia-sia. Kamu bilang, "Lebih baik kita makan cuanki."

Genggamanmu membawaku berjalan, "Aku tahu ada cuanki enak di dekat sini."
Adalah kamu yang siang itu duduk di depanku dan terus mencoba menghiburku. Adalah kamu yang siang itu dan seterusnya akan menjadi abadi. Adalah kamu.

Untuk Kamu Baca - 1

"Aku ingin mati saja." Kamu bilang dengan lirih. 
Aku tentu saja marah. Tidak, tidak marah padamu. Tidak marah kepada inginmu. Pun, tidak marah kepada kata yang kamu dengan percaya diri ucapkan. 
Tentu saja aku marah kepada diriku sendiri. 
Seharusnya dan selayaknya sebagai seseorang yang pernah berjanji akan menjagamu--aku harus bisa membuatmu paham dan mengerti bahwa putus asa adalah hal wajar dan kamu harus bangkit setelahnya. Tapi jika putus asa yang kamu terus datangi adalah berkat ketidakmampuanku dalam membuatmu kuat, tentu saja aku marah kepada diriku sendiri. Tentu saja.
Tapi kemudian aku sadar bahwa marah bukan sebuah solusi yang dapat mengantarkanmu kepada keinginan yang kamu lemparkan di depan matamu. Aku sadar dan paham betul bahwa setelah adanya masalah ini kamu harus berevolusi menjadi manusia yang dapat berjalan dengan gagahnya walau jauh sebelumnya seringkali patah. 
"Tenang." Kataku, "Tahun depan bisa coba lagi."
Kamu hanya menyeka air …