Dua

Hidup memang seringkali berada di antara pilihan yang membingungkan. Pada masa-masa akhir saya di sekolah menengah kejuruan: banyak yang sedang sibuk mempersiapkan diri mereka untuk seleksi masuk universitas, banyak juga yang bingung mau lanjut ke mana. 

Perihal masuk universitas, anak-anak SMK sering dipandang sebelah mata. Ada yang bilang, 'Ngapain kuliah?' atau yang paling sering saya dengar, 'Lulus SMK? Kerja, lah!.'

Saya sadar, setiap manusia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena itulah kita tidak berhak untuk menyalahkan pilihan mereka. Jadi, melanjutkan kuliah? tidak salah. Berkerja? tidak salah. Berkaya? tidak salah.

Tidak ada yang salah di semua itu. 

Selain itu, ada juga yang lebih memilih untuk tidak mempublikasikan pilihan mereka dan menyimpannya sendiri karena satu dan lain hal. Saya termasuk di dalamnya. 

Kalau kamu tanya, mau ke mana saya setelah lulus sekolah? Saya hanya akan jawab, mau hidup menjadi manusia. 

Karena kalau saya ceritakan kepada mereka yang bertanya pun percuma. Tidak mendapat apa-apa. Tidak rugi, tidak untung. Lebih baik tidak sama sekali. 

Karena, sering sekali saya terlalu mengurusi hidup orang lain. Sering sekali saya berpikir bahwa pilihan yang saya tawarkan adalah pilihan terbaik yang harus orang lain pilih. Padahal, siapa saya? 

Mengapa demikian, karena saya sadar diperlakukan seperti itu kurang mengenakan. Sejatinya, manusia adalah makhluk yang berdiri di kakinya sendiri; memiliki ego; berjalan semaunya; dikehendaki semuanya. 




Bagikan Ke:    Facebook Twitter

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa berkomentar di kolom yang telah disediakan, cukup hati aja yang sepi, blog ini jangan.

Oh, iya. Jangan lupa untuk berlangganan blog ini dengan mengisi surat elektronik Kamu pada kolom di bawah agar Kamu mendapatkan notifikasi terkait postingan terbaru di blog ini. Gratis!

-Agung Rizqi