Jatuh Cinta Itu Biasa Saja




Jauh sebelum pikiran saya dipenuhi dengan urusan masa depan seperti layaknya seorang remaja yang serius. Saya juga pernah mengalami fase remaja yang dipenuhi dengan cinta-cintaan.

Fase cinta-cintaan itu mulai saya rasakan ketika SMP. Cinta-cintaan di sini maksudnya hasrat tuk berpacaran. Nggak mungkin kan anak SMP mendefinisikan cinta dengan menikah muda.

Entah. Bisa saja saya salah. Bisa saja di sisi lain bumi ini, ada seorang yang baru saja lulus SMP, terus ditanya sama temennya, 'Mau lanjut ke mana sob?'

Lalu, seseorang itu menjawab dengan lantang, 'Mau membangun rumah tangga'
Gila aja kalau itu beneran terjadi. Beda banget dengan saya. Bangun rumah pake lego aja seringnya rubuh. Apalagi rumah tangga.

Walaupun, faktanya ketika SMP saya sering gagal menjalin hubungan itu. Saya masih ingat sekali; dari sembilan cewek yang saya tembak, tujuh cewek nolak saya mentah-mentah. Sisanya berhasil saya pacari. Di sini, saya tidak akan menceritakan tujuh cewek-sialan-yang-sok-cantik itu, tapi, menceritakan dua cewek yang mau hidupnya pernah ada saya di dalamnya.

Mari kita mulai dengan cewek yang pertama. Saat itu, saya masih kelas dua SMP. Umur saya masih 14 tahun, tapi, jahitan bekas sunat sudah kering dari lama. Oke, lupakan yang terakhir.

Saat itu, saya baru punya akun Facebook yang sering saya akses dari warnet. Saya masih ingat, username yang saya pakai adalah Raden Agung Rizqi Efendi. Gila. Pakai Raden, lho. Kayak anggota kerajaan.

Anggota kerajaan mana yang main facebook di warnet?

Awal-awal main Facebook, saya terobsesi untuk mempunyai banyak teman. Ya, walaupun tidak berguna juga punya banyak teman. Teman saya contohnya, dia punya banyak teman di Facebook. Tapi, pas dia jatuh dari sepeda dan kakinya patah. Gak ada tuh temannya dari Facebook yang jenguk. Termasuk saya.

Karena itulah, saya menemukan sebuah akun dari cewek, nama akunnya Reni. Cantik. Dan dia satu sekolah dengan saya. Saya lihat profilnya, saya baca statusnya. Lucu juga.

Saya lihat kolom status hubungannya, dan yang terpampang nyata adalah: lajang.

Karena emang seperti. Dulu, banyak banget orang yang mengumbar hubungannya di Facebook. Ya, walaupun banyak juga yang bohong. Saya masih ingat, teman SD saya juga pernah bohong, saya tidak mau sebut namanya. Mengapa? Karena di akun Facebooknya dia menyatakan telah menjalin hubungan dengan... Ariel Tatum.

Kalaupun itu benar, ya, saya bersyukur karena mungkin saja sekarang mereka sudah putus, karena tidak ada lagi kabar tentang mereka. Dan teman saya tadi mungkin frustasi lalu gantung diri. Mungkin, ya. Bisa saja salah.

Balik lagi ke akun Facebook cewek yang tadi. Nama akunnya Reni. Udah, itu saja. Tidak ditambah nama Raden di depannya. Itu artinya, dia bukan anak gaul.

Tapi tak apa, saya masih suka dia. Lalu, saya meminta pertemanan. Beberapa menit kemudian, Reni menerimanya. Saya bahagia setengah mati.

Dengan nyali sosial media, saya mengirimkan pesan padanya di Facebook. Saya mulai dengan, 'Halo'

Lalu, dia menjawab, 'Ciapa nih?'

Jijik.
Alay beut.

Dia ganti semua huruf "S" jadi huruf "C". Saya curiga itu sudah jadi kebiasaannya. Saya curiga kalau dia lagi pesan nasi uduk, dia akan bilang, 'Bu, naci uduknya catu pake cambel tapi jangan pedec-pedec'

Jujur saya masih heran. Mengapa dia tanya, 'Ciapa nih?'

Karena di kolom chat kan sudah tertera nama saya. Awalnya, saya ingin balas, 'Kamu, buta aksara ya?'

Tapi, karena saya tidak mau kehilangan kesempatan ini. Sayapun menjawab pertanyaan bodohnya.

Lalu, kami bertukar informasi satu sama lain. Saya jadi tahu, dia pernah pingsan saat upacara. Dia jadi tahu, saya pernah mau dipalak oleh adik kelas.

Setelah itu, sayapun jadi tahu bahwa dia adalah murid kelas 8A. Beda dengan saya yang jadi salah satu murid di kelas 8G, yang merupakan kelas favorit kedua pada saat tahun ajaran tersebut. Itu adalah salah satu hal yang bisa saya sombongkan kepada Reni setelah kemampuan saya yang bisa minum jamu Buyung Upik dua gelas sekaligus.

Setelah itu, Reni meminta pin BBM. Saya bengong. Saya belum punya itu. Jangankan BBM, Handphone saja masih pinjam dari orang tua. Karena itu, saya jelaskan pada Reni, satu-satunya media komunikasi yang bisa kita pakai, ya, Facebook ini. Lagipula, 'di sekolah kan kita bisa sering bertemu', Saya menjelaskan di salah satu percapakan.

Tapi, itu semua tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi, jarak kelas saya dengan kelas Reni itu jauh. Ditambah lagi, Reni adalah salah satu cewek yang hits di sekolah saya. Reni punya geng, dan, kalau gengnya sedang ngumpul. Berisik banget. Sangat mirip seperti gerombolan Owa Jawa yang lagi orasi di jalan.

Dan itu semua sangat berbeda dengan pribadi saya. Ketika kelas dua SMP, saya cupu banget. Kalau mata kiri saya ditonjok, bisa nangis dua jam.

Tapi, perbedaan-perbedaan itulah yang membuat saya yakin bahwa saya bisa mendapatkan hatinya Reni. Benar saja, kami lalu berpacaran. Saya menyatakan cinta di pesan Facebook. Lalu, Reni mengubah status lajangnya menjadi berpacaran dengan: Raden Agung Rizqi Efendi.

Kalau saja saya bisa kembali lagi ke masa lalu, saya akan mengganti username Facebook saya. Entah, mungkin di masa depan, time travel sangat bisa terlaksana. Tapi, dengan menulis inipun, saya bisa kembali  beberapa tahun ke belakang.

Setelah berpacaran selama beberapa minggu, kami lalu putus. Dan tentu saja, Reni yang mengajaknya. Saya mengiyakan karena memang saya rasa, kami sangat tidak cocok saat itu. Saat itu, saya tidak patah hati. Mengapa? karena saya jatuh cinta dengan biasa saja.

***

Setahun beralalu, saya sudah move-on dari Reni. Di tahun ketiga di SMP, saya masuk ke kelas 9G, yang merupakan kelas favorit kesatu di tahun ajaran itu. Itu artinya, anak-anak "pintar" yang dipilih dari kelas dua di tahun sebelumnya, dikumpulkan menjadi satu kelas. Termasuk saya di dalamnya.

Seharusnya, saya bangga akan hal itu. Tapi, kok biasa saja ya? Mungkin, karena saya tidak terlalu berharap masuk ke dalam kategori itu.

Namun, yang saya banggakan adalah, di kelas sembilan, saya punya handphone baru. Handphone yang saya maksud adalah Asus Zenfone C, Itu adalah Handpone tercanggih yang saya punya saat itu. Dan saat itu pula, BBM masih banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, termasuk saya.

Awalnya, saya berpikir bahwa anak-anak pintar itu penampilannya tidak menarik. Anak pintar dalam imaji saya adalah: penampilannya culun, bawa banyak buku, pakai kacamata, dan punya banyak brosur Primagama di tasnya.

Tapi tidak juga. Buktinya, saya menemukan seorang cewek yang kebetulan sekelas dengan saya dan dia menarik hati saya dan membuat saya memandangnya dalam waktu yang cukup lama.

Sebut saja namanya Riri. Sebetulnya, saya masih ingat sekali namanya, tapi tidak saya publikasikan di sini karena itu permintaannya.

Dia adalah anak seorang guru di sekolah saya. Awalnya saya hanya sebatas tahu, menyapapun enggan. Tapi karena saya dan Riri duduk berdekatan. Perlahan saya berani untuk mengajaknya berbicara.

Riri memiliki tubuh yang mungil, bola mata yang jernih, dan senyum yang tipis.  Entahlah, saya memang tidak hebat dalam mendeskripsikan seseorang. Tapi yang jelas, saat itu Riri sangat suka dengan K-Pop. Karena itu, diapun menyukai drama korea, hingga update perihal artis korea. Berbeda jauh dengan saya. Yang saya tahu dari Korea hanya harga kedelai di Seoul dan Kim Jong Un.

Tapi, itu semua tidak membuat saya gentar. Saya berambisi, saya harus bisa menarik hatinya, minimal menarik perhatiannya. Saya bernasib baik, saya dan Riri piket kelas di hari yang sama, hari rabu. Itu artinya, setiap rabu saya bisa mendekatinya. Disela-sela saya menyapu lantai, saya bisa melempar senyum pada Riri. Ya, walapun. Kalau dilihat dari sekarang, dulu saya seperti orang gila yang rajin menjaga kebersihan kelas.

Setelah semua itu, saya memberanikan diri untuk menghubunginya lewat BBM. Kebetulan, kami punya grup kelas. Dan dari sanalah saya mendapatkan kontaknya Riri.

Saya memulai percakapan dengan Riri, 'Ping'

Beberapa menit kemudian Riri menjawabnya, 'Pong'

Saat itu, ping-pong terdengar sangat romantis.

Lalu, setelah itu kami berbalas pesan. Biasanya pukul setengah sembilan malam  berhenti, Riri selalu pamit untuk tidur karena menjadi seorang anak guru artinya harus disiplin waktu.

Beberapa minggu setelahnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa. Kali ini, saya sangat takut ditolak mentah-mentah. Karena saya belum sesemesterpun di kelas sembilan. Itu artinya kalau saya ditolak Riri, beberapa bulan ke depan sangat canggung sekali.

Tapi, sekali lagi nasib baik ada pada diri saya. Riri pernah bilang bahwa dia suka saya karena saya lucu dan baik. Sudah, itu saja. Itu juga yang membuat kami berdua berpacaran. Karena saya dan Riri sekelas, kami memutuskan untuk menyembunyikan hubungan itu. Tidak ada yang tahu, hanya kami dan sapu lidi di hari rabu.

Jujur, menjalin hubungan seperti sulit sekali. Karena itu, cowok yang mau mendekati Riri tidak bisa saya lawan. Serta di kelas, kami juga berbicara seperlunya. Kadang hanya saling melempar senyuman.

Sampai beberapa bulan setelahnya, teman kami mengetahui hubungan itu. Sebut saja Desi dan Yuna, mereka mengetahuinya dari hadphone Riri; mereka tahu password lockscreen-nya dan membuka percakapan kami di BBM. Jujur, kalau mereka bukan teman saya. Mereka akan saya laporkan ke polisi atas tuduhan penyadapan.

Setelah itu, di sela-sela kegiatan sekolah Desi bertanya, 'Kamu pacaran, ya, sama Riri?'
Saya bengong. Lalu membuka suara, 'Engga'

Desi gebrak meja, 'Jangan bohong!'

'IYA' kata saya, latah.

Desi dengan tatapan tajam dan kedua tangannya menekan meja berbisik kepada saya, 'Jangan sakiti, dia'

Saya mengangguk, lalu, Desi tersenyum. 'Kenape, lu?' Tanya saya. Lalu, dengan percaya diri, Desi menjawab, 'makan-makan, ya'

Kampret, memang.

Setelah itu, bukan cuma sapu lidi di hari rabu yang tahu hubungan kami, melainkan Desi dan Yuna. Beberapa bulan setelahnya, jumlahnya semakin banyak. Dan, ketika kami ditanya soal hubungan kami oleh orang lain, kami hanya tersenyum ringan.

Seperti biasanya, hubungan yang dijalin saat sekolah, sering sekali putus ketika lulus. Begitu juga dengan saya dan Riri.

Saat itu, ujian nasional telah dilaksanakan. Yogyakartapun dipilih oleh sekolah kami sebagai tempat perpisahan. Yang ikut hanya kelas 3, para guru, dan tentu saja supir bus yang mengantar kami ke sana.

Singkat cerita, saya dan Riri duduk berdekatan dalam satu bus. Kami mengobrol banyak hal ketika yang lain sudah tidur. Tidak seperti biasanya perjalanan jauh menuju Yogyakarta seasik itu. Malam hari. Lampu-lampu jalan tol. Supir yang masih mengemudi. Semuanya seakan menemani kami.

Pukul setengah sepuluh malam, Riri akan tertidur. Gesturnya berbicara bahwa dia kedinginan saat itu, lalu, saya meminjamkannya jaket. Riri terseyum, lalu dia memejamkan mata. Awalnya saya tidak menyangka bahwa itu benar-benar perjalanan yang membawa kami menuju perpisahan.

Setelah itu, kami sangat menikmati Yogyakarta. Pantainya, makanannya, suasananya, sampai sudut ruangan Keraton Yogyakarta meninggalkan makna yang nyata bagi kami. Kemudian, setelah beberapa hari menikmati Yogyakarta. Kamipun pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Rumah yang nyaman, dan tentu saja: rumah itu bukan lagi kami.

Beberapa minggu setelahnya, Riri mengajak saya berdiskusi. Lalu kesimpulan yang diambil adalah kami berpisah. Karena, LDR mungkin tidak akan berhasil. Pasalnya, kami tahu kami pasti akan menemukan orang baru. Hati baru. Rumah baru. Tujuan Baru.

Setelah itu, jatuh cinta tetap biasa saja; patah hatinya saja yang menyiksa. 


***
 Setelah tulisan ini diunggah, saya iseng membuat video sajak sederhana dari tulisan Jatuh Cinta Itu Biasa Saja dengan judul yang sama. Silakan nonton. Lov-yu.

18 komentar:

  1. Wahhhh ceritanya bikin nyesek yaaa, saya juga sering banget ngalamin hal itu. Karena LDR juga, walaupun dulunya pernah bersama bareng walaupun hanya singkat dan akhirnya berpisah seperti ini. Heumhh pasti bakal nemu yang baru dan lebih ketceh dari dia lah mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga bertemu dengan yang lebih ketceh, mas. Hehe.

      Hapus
  2. Nggak banyak yang bisa survive dengan LDR. Meski aku dibilang berhasil LDRan dan menikah. Tapi gejolaknya luar biasa. Ada saat dimana hati beneran kosong dan siap dihuni sama yang dekat dimata. Jadi aku dan suami juga memutuskan untuk nggak LDRan. LDR berasa pacaran sama HP & skype.

    BalasHapus
  3. Waah... Boleh sekali ni gan... Terimakasih banyak sudah berbagi gan...

    pokerplace88.me
    deposit idn poker
    daftar idn poker

    BalasHapus
  4. wkwkwwk masa sekolah emang era cinta monyet ya wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang suka bikin senyum-senyum sendiri. Kadang juga jijik. Aneh emang.

      Hapus
    2. Jijik karena kealayan era itu atau jijik dengan aib-aibnyaa???


      HAHAHAHAHHA

      Hapus
  5. Pokoknya ... masa cinta-cintaan di jaman sekolah alias cinta monyet itu paling lucuuuuk kalo diingat-ingat.

    Terutama terlintas setelah beberapa tahun kemudian, kadang muncul pertanyaan sendiri ' kok bisa sih waktu itu ada timbul rasa suka sama dia ?, apa yang bikin tertarik sama dia ya ?'.
    Kalo ingat itu, kadang bikin ngakak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang betul. ironi memang. tapi karena itulah jadi lucuk-gemesin-jijik gitu

      Hapus
  6. yg pertama Reni, kedua Riri.. Nama saya Riandy, saya aman kan mas? wkwkwkw

    Terbawa suasana saya membaca cerita riri mas, deskripsinya detail sekali dan bagus, ya kalau saya sebagai pembaca ya bagus. Mungkin bagi mas-nya yang nyesek ya, hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah jangan berharap saya pacari dong hanya karena nama anda berawal dari huruf r.

      nama-nama diatas hanya samaran, dong. mereka pasti malu, aku pun.


      satu lagi, kita kalo benci terhadap satu kejadian pasti ingat betul seperti apa detailnya wlwlwlwlwlwlwlwl

      Hapus
  7. Ya ampun nak, kamu kok kaya orang gila yah...

    Gw baca postingan ini jadi inget jaman-jaman gw sekolah dulu, wkwkwk

    BalasHapus
  8. Hahah, kocak ya jalan ceritanya...
    Baru kali ini saya main ke personal blog yang lucu banget ceritany.

    Dari 9 yang ditembak, 7 yang menolak dan 2 berhasil dipacari.
    Tapi gue yakin kalo yang dua orang itu menerima dengan terpaksa deh!
    bisa jadi pas mau nolak dia kejedot tiang listrik...hhe

    BalasHapus

Terima Kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa berkomentar di kolom yang telah disediakan, cukup hati aja yang sepi, blog ini jangan.

Oh, iya. Jangan lupa untuk berlangganan blog ini dengan mengisi surat elektronik Kamu pada kolom di bawah agar Kamu mendapatkan notifikasi terkait postingan terbaru di blog ini. Gratis!

-Agung Rizqi