Semuanya Semaunya


Hi!
umm.. apa kabar?

Senang rasanya bisa kembali lagi ke rumah ini setelah beberapa minggu tidak pulang. Tidak ada yang berubah nampaknya dari rumah ini. Tetap sederhana, hening dan sepi. Warna hitam dan putih tetap mendominasi dan menjadi favorit saya. Tidak berlebihan, dan, saya tetap suka.

Jika kamu tanya, kenapa saya jarang menulis kembali di sini. Saya butuh banyak waktu tuk menceritakannya. Terakhir kali saya menulis di sini adalah satu bulan yang lalu. Saat itu, saya membahas beberapa hal dari sudut pandang saya. Tapi jujur, ada satu hal yang saya belum ceritakan.

Saya sadar, ini terlalu pribadi jika untuk disebarluaskan di dunia dalam jaringan seperti ini. Tapi, ingatlah ini adalah blog pribadi saya. Blog ini dibuat untuk saya di masa depan agar tidak lupa seperti apakah diri saya waktu dulu. Jadi, karena itulah semuanya semau saya.

Kenapa tidak ditulis di catatan? Sekali lagi, semuanya semau saya.

Lanjut

Semua orang di dunia ini sepakat bahwa kehidupan ini tak bisa ditebak. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan, kita pun tak bisa menerka apa yang akan terjadi di sepuluh detik ke depan. Di sisi lain, saya adalah orang yang sepakat bahwa suatu hal itu terjadi karena sebuah alasan. Termasuk tentang yang akan saya ceritakan sekarang, tentang hal yang tak pernah saya duga-duga sebelumnya.

Mari kita mulai.


***


Waktu itu, bulan januari 2018. Saya sudah menginjak kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan, dan, saya masih tetap dengan pendirian: saya harus punya pacar.

Pada bulan itu, saya sedang dalam masa pendekatan dengan seorang perempuan. Mari kita panggil saja dia dengan nama Ayu. Ayu masih satu sekolah dengan saya. Sama dengan saya, Ayu adalah pelajar yang menyukai dunia literasi. Ayu suka menulis, begitu pun dengan saya. Karena itulah saya berpikir bahwa Ayu cocok dengan saya. Namun, seperti apa yang saya katakan tadi; semuanya tak ada yang tahu. Termasuk kenyataan Ayu sudah mempunyai pacar sejak lama.

Saat pertama kali saya mengetahui hal itu, hari-hari saya dipenuhi dengan pertanyaan; kenapa bisa seperti ini? Kenapa yu, kenapa?

Dari saat itu lah kehidupan saya berubah. Dimana sebelumnya pada malam hari saya sering bertukar kabar dengan Ayu, setelah itu menjadi malam yang sangat sepi bagi saya. Bukan Ayu yang menghindar, tapi saya yang memutuskan untuk pergi pelahan. Karena saya sangat tidak mau hal buruk terjadi.

Kemudian setelah itu, saya menjalani kehidupan sekolah seperti biasa. Berangkat pagi, pulang menjelang sore, lalu, mengikuti kegiatan organisasi, itu pun hanya di hari selasa dan jum’at. Selebihnya, saya habiskan dengan kegiatan yang saya sukai. Seperti menulis, membaca buku, dan melatih kucing untuk memasak tumpeng.

Sampai akhirnya, pada hari rabu di akhir bulan januari. Jam istirahat pertama, dari pojok kantin saya melihat seorang perempuan yang menurut saya sangat menarik. Perempuan itu memiliki tubuh yang tinggi, kaki yang jenjang, dan pupil mata yang simetris. Jujur, kalau saya mempunyai nyali yang sangat besar. Pasti saya akan... menantang satpam berduel

Eh, maksud saya; mengajak perempuan itu berkenalan.

Tapi, nyatanya saya hanya seorang lelaki yang sering lupa bawa nyali. Sejak siang itu, saya tidak menaruh harapan pada perempuan itu, sebab, rasa kecewa karena Ayu masih datang tanpa permisi. Saya tak mau kembali dikecewakan.

Waktu berlalu, pada bulan maret 2018 semuanya berubah. Di hari rabu sepulang sekolah, saya memutuskan untuk berkumpul dulu di ruang organisasi yang saya ikuti. Bersama beberapa teman, saat itu, Kami membahas soal kegiatan antar-organisasi yang akan dilaksanakan di bulan depan. Dan saya menjadi panitia untuk kegiatan tersebut bersama dua teman saya(yang tidak mau saya sebutkan namanya, karena, mereka pasti akan merasa sangat sombong) di bidang acara.

Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore, saya baru saja menyelesaikan diskusi dengan panitia lain, dan, saya memutuskan untuk bersantai dulu di sini, di ruang organisasi yang sudah hampir mirip dengan kos-kosan.

Tak lama, pintu ruangan diketuk. Ada seseorang yang datang, rupanya seorang perempuan dengan tinggi badan yang identik. Perempuan itu datang sambil memeluk laptop, dan mengenakan masker. Saat itu, saya tak terlalu memedulikan kedatangannya.

Sampai suatu ketika, ia membuka masker, lalu, waktu seakan berhenti seketika.

Kalau kalian tanya; kenapa bisa seperti itu? Karena, perempuan itu adalah perempuan yang saya temui di kantin beberapa bulan lalu. Lalu, pertanyaan muncul di kepala saya; kenapa dia bisa ada di sini?

Usut punya usut, perempuan itu juga ternyata menjadi panitia untuk kegiatan yang sama. Kemana saja saya sehingga baru menyadarinya sekarang? Entahlah, semuanya tak ada yang mengetahuinya. Dan, setelah saya selidiki. Dia menjadi panitia di bidang keuangan, dia menjadi bendahara umum, dan, kedatangannya ke sini ternyata ingin melaporkan rancangan anggaran untuk kegiatan yang akan kami laksanakan nanti.

Saat itu waktu menunjukkan pukul lima sore, dan, seseorang menepuk pundak saya. ‘Gung, saya boleh minta bantuan’ Ujar Idam, yang merupakan ketua pelaksana di kegiatan nanti.

Saya menoleh, membuka suara, ‘Bantu apa, nih?’ Ada sedikit jeda, ‘Kalau kamu minta saya untuk membeli makanan ke warteg, saya gak mau, ya’

‘Bukan, bukan itu’ Ujar dia sambil merapikan tas ranselnya, ‘Anterin Aul, dong’ Lanjutnya dengan sedikit meminta.

Saya bertanya, ‘Aul?’ Mata saya melirik ke sekeliling, sambil, mencari tahu siapa yang kira-kira bernama Aul

               ‘Dih’ Idam sedikit heran, nada bicaranya naik, ‘Masa gak tahu?’

Mata Idam melirik ke kiri, kemudian melanjutkan bicaranya, ‘Itu lho, yang tadi pake masker’

Saya sedikit tersenyum. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya pun bilang, ‘Iya, saya mau’

Idam menoleh ke arah Aul, dia sedikit berbisik. Bersamaan dengan itu, saya memasukkan laptop saya ke tas, mengeluarkan jaket untuk saya pakai. Lalu, dengan sedikit tersenyum, saya bilang kepada Aul dari kejauhan, ‘Yuk’

Aul kemudian berdiri, saya keluar ruangan lebih cepat. Ketika saya mengenakan sepatu di teras, Aul kemudian bertanya, ‘Gak apa-apa, nih?’

Saya hanya mengangguk.

Setelah itu, Kami berjalan melewati koridor kelas, mengarah ke gerbang sekolah untuk pulang. Dan, percaya atau tidak. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut kami, hanya suara gesekkan antara sepatu dan lantai yang memecah keheningan sore itu.

Saya berbelok ke parkiran sekolah, sore itu masih banyak motor yang diparkir rapi di sana. Sedangkan, Aul berjalan duluan, menunggu di depan gerbang sambil sesekali memperhatikan telepon genggamnya. Sebelum keluar dari parkiran saya bertekad, harus ada sesuatu yang saya dapatkan setelah ini. Minimal obrolan singkat antara saya dengan Aul di atas motor saat perjalanan pulang.

Tak mau membuat Aul menunggu terlalu lama, saya bergegas menemuinya di depan gerbang. Motor saya berhenti tepat di depan Aul, kemudian ia bergegas naik. Bersamaan dengan itu, di seberang jalan ada teman saya yang lain kompak bersiul, satu diantara mereka berkata “Cie” dengan durasi yang cukup panjang.

Dari kaca spion tampak Aul sedikit malu, lalu, saya bergegas untuk tancap gas.

Jujur, canggung rasanya duduk berdua di atas motor, dan, melaju tanpa ada sedikit pun kata yang keluar dari mulut kami. Dan karena saya tahu bahwa perempuan itu tidak akan memulai duluan, maka, saya yang akan melaksanakannya. Saya sedikit menengok ke arah Aul, saya buka kaca helm, lalu bertanya, ‘Rumah kamu di mana?’

Aul menjawabnya, suaranya kini terdengar jelas di telinga kiri saya. Suara dari seorang perempuan yang sudah lama saya penasaran akan pribadinya. Dia menyebutkan sebuah daerah yang sama sekali saya tidak mengetahuinya, lalu, dengan polosnya saya berkata, ‘Kalau nanti mau belok, kasih tahu aja ya’

Aul bilang, ‘iya’ lalu telepon genggamnya berbunyi. Dia kemudian berbicara dengan seseorang di seberang sana melalui telepon. Lalu, Aul membuka suara, berbicara dengan telepon genggam di telinga kirinya, ‘Iya mah, ini... lagi dijalan. Bentar lagi juga nyampe. Aku sama temen’

Kemudian panggilan ditutup, mulut saya belum menutup.


Saya kemudian berbicara di dalam hati, ‘Percayalah, nanti, Kita bukan hanya sekadar teman’

Setelah beberapa lama mengendarai motor, Kami sampai di rumah Aul. Kami berhenti beberapa ratus meter sebelum pintu rumahnya atas permintaan saya, karena... saya malu jika untuk bertemu orang tuanya. Apalagi saat itu saya berpenampilan seperti mamang-mamang-ojek-pangkalan, kan gak asik kalau di depan orang tuanya saya ditanya, 'Ongkosnya berapa, pak?'

Setelah turun dari motor saya, Aul tersenyum tipis. Dia pamit dan berterima kasih, saya pun.

Setelah itu, di grup whatsapp panitia kegiatan, saya mencari kontak Aul untuk menghubunginya pribadi. Setelah beberapa lama, saya mendapatkannya. Di profile whatsapp-nya, jempol saya mendadak gemetar. Jempol saya yang seharusnya memencet tombol chat, melenceng menjadi memencet telepon video. Saya panik.

Sumber; Telepon genggam pribadi Aul



***

Kemudian setelah itu, kami sering mengobrol melalui telepon genggam. Kami sering bertemu, bertatap muka dan berbagi cerita. Semua begitu cepat. Semuanya semau-Nya sampai saat ini, detik ini, ketika saya sudah menginjak kelas XII.

Dan, bagaimana setelah ini? Saya tidak bisa mengiranya. Untuk saya di masa depan yang membaca ini, selamat datang kembali. Mari bertemu dalam segelas kopi dengan cerita tentang Aul pada masamu.
Bagikan Ke:    Facebook Twitter

2 komentar:

Terima Kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa berkomentar di kolom yang telah disediakan, cukup hati aja yang sepi, blog ini jangan.

Oh, iya. Jangan lupa untuk berlangganan blog ini dengan mengisi surat elektronik Kamu pada kolom di bawah agar Kamu mendapatkan notifikasi terkait postingan terbaru di blog ini. Gratis!

-Agung Rizqi