Menulis(Kembali)

Setelah memakan dua tahu bulat yang mulai dingin, saya memutuskan untuk menulis ini. Kadang, pemikiran perlu dituangkan, tahu bulat tidak perlu dipanaskan.

Saat ini, saya sedang duduk menghadap laptop di bawah lampu kamar yang mulai redup. Biasanya, kalau sudah seperti ini; imaji saya akan melayang untuk memikirkan hal yang sudah dan mungkin akan terjadi. Dan setelah beberapa dari imaji itu tertangkap oleh pikiran, saya biasanya akan menceritakannya kembali melalui tulisan.

Mari kita mulai.

Jika boleh jujur, saya adalah remaja yang jarang-atau-hampir-tidak-pernah keluar rumah. Saya lebih suka mengasingkan diri ke kamar. Menonton beberapa film dokumenter yang berisi perjalanan seseorang di hidupnya. Biasanya, saya akan membuat segelas matcha hangat kemudian menonton film di laptop sambil menggunakan earphone, lalu, setelah film selesai diputar. Saya biasanya menulis.

Jika boleh jujur, saat kalimat ini ditulis. Saya baru saja selesai menonton film yang mengangkat kisah aktivis di negeri ini, Wiji Thukul. Film yang saya maksud adalah Istirahatlah Kata-kata. Di dalam film ini, dialog jarang ditemukan. Bagi yang belum tahu Wiji Thukul, mungkin film ini menjadi terasa bosan untuk ditonton. Namun sebaliknya, akan mendatangkan suasana yang mencekam jika kita tahu dan mengerti keadaannya saat itu.

Tapi, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang film tersebut. Tapi, yang akan saya bahas adalah perihal perjalanan manusia dari persepsi saya pribadi. Mari kita jadikan Wiji Thukul sebagai contoh konkretnya. Wiji Thukul awalnya seorang manusia biasa, beliau juga dilahirkan dari keluarga yang biasa saja. Namun, melalui puisinya beliau berteriak lantang melawan ketidakadilan dan penindasan yang diterima olehnya dan orang disekitarnya. Pada saat itu dia hanya ingin berbicara dan protes akan apa yang terjadi lewat puisi, tapi, karena 'mereka yang diprotes' takut akan kata-kata, Wiji Thukul hilang sejak tahun 2000.

Jika saja Wiji Thukul diam, mungkin dia akan baik-baik saja sampai saat ini. Tapi nyatanya tidak seperti itu. Lalu, jika saja saya tidak menonton film tentang Wiji Thukul, mungkin saya tidak akan mengenalnya lebih jauh dan menulis hal ini. Jika kesimpulannya ditarik, itu kembali ke perihal perjalanan. Dan perjalanan dimulai dengan sebuah keputusan. 

Seperti halnya beberapa minggu kemarin, saya mendapat kabar bahwa nama saya tercantum sebagai siswa yang mendapat bantuan sertifikasi TOE-IC(Test Of English as International Communication) dari pemerintah. Awalnya karena keputusan saya pribadi untuk mencoba mengikuti seleksi di sekolah untuk mendapatkan sertifikat bahasa tersebut, lalu, mengikuti tes seleksi, dan saya terpilih. 

Lalu, lebih jauh dari itu. Semua perjalanan saya berawal dari sebuah keputusan yang saya ambil. Termasuk, keputusan untuk menulis(kembali). 

  

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa berkomentar di kolom yang telah disediakan, cukup hati aja yang sepi, blog ini jangan.

Oh, iya. Jangan lupa untuk berlangganan blog ini dengan mengisi surat elektronik Kamu pada kolom di bawah agar Kamu mendapatkan notifikasi terkait postingan terbaru di blog ini. Gratis!

-Agung Rizqi