Surat Terbuka Untuk Saya Di Masa Depan

Saya adalah orang. 

Masa seh?!

Ok. Fokus.

Ehem. Saya adalah orang yang bisa dibilang beruntung. Saya lahir dan hidup di antara orang-orang yang menyenangkan. Saya hidup di antara orang-orang yang sering kali membuka pikiran saya, membuat saya melamun untuk waktu yang cukup lama. 

Seperti halnya kemarin, ada sesuatu yang membuat saya seperti itu. Pukul delapan malam, led notifikasi telepon saya berkedip. Ada pesan dari Line yang masuk dari seseorang, malam itu memang saya sedang berbalas pesan dengan seorang itu. Saya usap telepon genggam itu, jemari saya berupaya menggapai pesan tersebut. Dan, pertanyaan dari dia pun muncul, pertanyaan, 'Kamu tau gak, nanti, kamu akan jadi seperti apa?'

Saya terdiam, mata saya menerawang dan yang nampak hanya abu-abu.

Saya sadar, saya bukanlah Dilan di tahun 1990 yang dapat meramal sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Saya juga sadar, saya tidak se sibuk Uya Kuya. Karena, kalau saya se sibuk dia... gimana bisa nulis di blog hei!?

Maka dari itu, hari ini, saya memutuskan untuk menulis ini. Menulis surat terbuka untuk diri saya sendiri di masa depan.

Mari kita mulai.


***

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

Ehe.

Bagaimana kabarmu? Sehat? Atau sakit? Jika sakit, itu salahmu sendiri. Karena dulu, kamu sering makan Indomie di warung dan gak bayar. Jika kamu sakit, mungkin karena kamu jarang berolahraga. Karena kamu dulu keras kepala, dan ngotot berkata bahwa rebahan di kasur itu adalah salah satu cabang atletik, padahal kan enggak...

...orang dia gak buka cabang.

Bagaimana? kualitas humormu dulu memang sampah, kan?



Jika kamu bertanya, 'Kenapa dulu kamu membuat surat ini?'

Maka, Izinkanlah kamu yang dulu ini menjawabnya. Alasannya, karena kamu yang dulu ini ingin tahu; seperti apakah kamu di masa depan?

Apakah kamu tetap tidak membayar Indomie yang kamu makan? Atau, apakah kamu sudah melunasi semua hutang-hutang Indomie-mu di warung itu? Semoga, Indomie tetap menjadi seleramu. Dan semoga, di masa depan tidak ada alien yang menyerang bumi, lalu, mengambil semua stok Indomie yang ada.

Selanjutnya, Apakah kamu tahu? Dulu, saat kamu menulis ini. Kamu itu sedang tiduran menghadap laptop, dengan dua jari telunjuk tangan menekan keyboard; kata demi kata dari surat ini kamu tulis dengan hati-hati. Karena, kamu harus tahu bahwa dulu, kamu itu adalah seorang yang sering hatinya tersakiti. Baik oleh perkataan orang lain yang merendahkanmu, maupun oleh bola volly yang menghantam dadamu sore itu.

Apakah kamu tahu? Bahwa, saat kamu menulis ini; kamu sedang berbalas pesan dengan seseorang yang kamu sukai. Apakah kamu masih dekat dengannya? Atau, apakah kamu sudah melupakannya? Jika masih dekat, tolong jangan sekali-kali kamu sakiti hatinya, jangan sekali-kali kamu lemparkan bola volly ke dadanya. Dan, jika saat kamu membaca surat ini hatimu sudah dengan yang lain, maka, tolong ceritakanlah bagaimana orangnya.

Kamu harus tahu, saat dulu kamu menulis paragraf ini. Otakmu tiba-tiba tak bisa mengeluarkan kata-kata untuk dituliskan. Namun, akhirnya kamu sadar; kamu hanya perlu jujur untuk melanjutkan paragrafnya. 

Kamu masih ingat? Dulu, kamu ingin sekali menulis sebuah buku komedi. Memang ini terdengar sedikit konyol, namun, semua hal dapat terjadi. Kita lihat saja nanti, jika ada seseorang yang mengunggah foto sebuah buku di Instagram dengan caption yang panjang, dan dia berkata bahwa dia suka tulisanmu. Kamu berhak tersenyum sekarang.

Selanjutnya, yang ingin kutanya adalah. Jadi apa kamu di masa depan? Apakah seorang guru? penulis? karyawan swasta? penyanyi? penyiar? penyair? Entahlah, kamu yang dulu itu bukanlah Dilan di tahun 1990 yang dapat meramal sesuatu yang kan terjadi di masa depan. Kamu yang dulu hanya bisa menerka-nerka, dan hanya terus mencoba mewujudkan yang kamu cita-citakan.

Masih ingat Dilan, kan? Iya, yang dulu membuat jaket jeans berbendera Amerika terbalik di salah satu lengannya laku terjual laku di pasaran.

Oh iya, saat kamu sedang menulis ini. Pilkada serentak sedang dilaksanakan, dan semoga, mereka yang terpilih dapat memimpin kamu, membangun untuk negeri ini. Dan yang terpenting adalah, dapat memanusiakan manusia.

Dan, semoga kamu dapat membuat orang lain paham, bahwa, kemenangan bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya di hari kemarin.

Sudahlah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Selebihnya, biar waktu saja yang menjawab semuanya. Surat ini aku tulis untuk mengingatkanmu dari mana kamu berasal.

Semoga kamu di masa depan tetap menulis, karena, menulis akan membuatmu abadi.

Terima kasih telah membaca.

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaaatuh



1 komentar:

  1. BROKER AMAN TERPERCAYA
    PENARIKAN PALING TERCEPAT
    - Min Deposit 50K
    - Bonus Deposit 10%** T&C Applied
    - Bonus Referral 1% dari hasil profit tanpa turnover

    Daftarkan diri Anda sekarang juga di www.hashtagoption.com

    BalasHapus

Terima Kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa berkomentar di kolom yang telah disediakan, cukup hati aja yang sepi, blog ini jangan.

Oh, iya. Jangan lupa untuk berlangganan blog ini dengan mengisi surat elektronik Kamu pada kolom di bawah agar Kamu mendapatkan notifikasi terkait postingan terbaru di blog ini. Gratis!

-Agung Rizqi