Obrolan Jam Sembilan

Semua berawal dari postingan Instagram. Malam hari menuju senin kali itu tidak seperti biasanya untuk saya dan teman saya. Malam itu, saya mengunggah postingan di Instagram saya. Kemudian, ada beberapa orang yang menggunggah kembali caption unggahan saya tersebut ke status Whatsapp mereka masing-masing. Di antara orang-orang tersebut adalah Putra(nama disamarkan), dia meminta izin terlebih dulu kepada saya di pesan Whatsapp. 'Boleh di repost, kan?'.

screenshot dari whatsapp story-nya Putra


Saya jawab singkat, 'Boleh.' Kemudian saya melanjutkan, 'Hari ini sudah ada beberapa orang yang seperti elo'.

'Patah hati?', dia bertanya dari seberang sana.

Saya bingung, 'Maksudnya?'.

'Gak bisa kalau dijelasin di sini, besok aja'. Dia menjelaskan. Sepertinya, ada masalah yang serius. Tidak seperti biasanya gelagatnya seperti itu.

Saya tanya, 'Yaudah, besok ketemu di mana?'. Beberapa menit kemudian Putra menjawab, 'Di sekolah. Di kelas. Kita kan sekelas, bego'.

Setelah itu, saya memutuskan untuk tidur. Mengingat besok saya harus sekolah; upacara bendera, belajar, lalu menjilat tembok Tata Usaha.

Keesokan harinya, jam setengah tujuh pagi saya sudah berada di sekolah. Saat itu sedikit mendung, mungkin karena semalam ada yang menangis. Entah siapa.

Hari itu dibuka dengan upacara bendera. Semuanya tampak biasa saja, tidak ada yang membuat saya kaget. Tidak ada yang menari tor-tor di dekat pembina upacara. Biasa saja.

Setelah itu, saya masuk ke kelas. 

Hari itu, matematika yang menjadi 'sarapan pagi'. Saya suka matematika. Dulu.--Namun, setelah rumus-rumus yang membingungkan menjadi 'topping' di atasnya, saya tidak bisa 'mencerna' matematika dengan baik.

Akibat terlalu pusing karena matematika, saya hampir lupa perihal perkataan Putra pada malam sebelumnya. Hari itu, Putra tampak murung. Tidak seperti biasanya dia seperti itu.

Putra adalah teman baik saya di kelas. Kami bertemu tiga tahun yang lalu tentu saja. Kami sering mengobrolkan tentang film-film Marvel di jam istirahat pertama, itu semua karena kami suka film-film itu.

Dengan badannya yang tidak terlalu tinggi dan rambutnya yang sedikit ikal, Putra sering sekali menjadi idola adik kelas. Berbeda jauh dengan saya. Ketika saya berjalan di depan kelas junior, mereka langsung pura-pura simulasi UN.

Setelah bel istirahat berbunyi, saya mendekati Putra di tempat duduknya. Waktu menunjukkan pukul sembilan, Putra menjelaskan semua.

'Jadi gimana, Put?' Tanya saya.

'Putra. ' Jawab dia. Singkat.

'Iya, jadi gimana, Putra?' Tanya saya. Lagi.

'Nah, gitu dong. Jangan setengah-setengah, jadi kan gue tahu--bahwa gue yang ditanya sama lu.' Putra menjelaskan. 'Kirain gue, lo lagi nanya ke Putri', lanjutnya.

'Tapi, kan, di kelas ini gak ada yang namanya Putr...'

Putra memotong, 'Gak penting, lu'.

Hening.


Saya kemudian sedikit memutar kedua bola mata, lalu, bertanya kembali apa yang sebenarnya terjadi kepada Putra pada malam kemarin. Sedikit demi sedikit Putra membuka suara.

'Jadi gini, Gung. Semuanya berawal dari Facebook.

Saya diam saja, saya membiarkan Putra bercerita.

'Gue bertemu dengan Dea di Facebook. Sebelumnya kami tidak pernah bertemu, hanya saling tahu saja. Dea, dengan akun facebook barunya bercerita ke gue bahwa akunnya yang lama di-hack oleh orang yang tidak dikenal. Setelah itu kami mengobrolkan banyak hal, setelahnya kami bertukar nomor Whatsapp.'

'Terus?' Saya meminta Putra untuk melanjutkan.

'Terus, kami berteman di Whatsapp. Kami sering bertukar cerita, menghabiskan waktu dengan mengobrol dari jarak jauh, lalu, setelah sekian lama; gue tanya perihal status hubungannya. Dea hanya menjawab bahwa dia tidak dekat dengan siapapun'.

Putra berhenti bercerita, dia lalu menunduk. Melihat Putra seperti itu, saya langsung bilang, 'Udah, gapapa. Cerita aja'.

Putra nyamber, 'Gue haus, bego'.

Hening.

'Yaudah, cerita aja sih. Jangan nanggung.' Saya meminta. Putra lalu setuju, ia kemudian melanjutkan ceritanya. 'Awalnya kami hanya bertemu di sosial media. Awalnya biasa saja. Sampai akhirnya, gue ajak Dea untuk menonton film di Bioskop. Menonton berdua. Dea mau.'

'Kesimpulannya?'

'Ya, gue kalau udah serius dengan seseorang; gue pasti ajak nonton berdua'. Putra menjelaskan.

Lalu saya bilang, 'Kita pernah nonton berdua'. Lalu saya dan Putra saling menatap. Canggung sekali.


Putra melanjutkan, 'Nah, beberapa jam sebelum nonton. Dea menjemput saya di rumah. Lalu, kami pergi bareng. Saya yang bawa motornya. Di jalan, kami mengobrolkan banyak hal' 

'Kok gak pake motor lu, Put----Putra?'.

'Ya kan elo tahu sendiri'. Putra menjawab, 'Motor gue kan jadul. Takut terjadi sesuatu, Gung. Gue gak mau aja ketika di jalan tiba-tiba.....'

Saya memotong, 'Motornya meledak'.


Putra hanya mengangguk, 'Iya, masuk akal'. Lalu ia melanjutkan, 'Nah, pas udah di Bioskop itu, si Dea gak mau gue traktir. Kan gue jadi untung, ya---Maksud gue, dia itu berarti gak matre.'

'Abis itu?' Tanya saya dengan jelas.

Putra merespon, 'Yaaaa, pulang. Setelah nonton, gue jadi mulai suka ke Dea, Gung'.

Setelah itu, saya mulai menyimpulkan bahwa masalah Putra pada malam sebelumnya adalah soal percintaan. Entah apa yang terjadi kepada Putra. Mungkin, Dea sudah menikah. Mungkin juga, Dea adalah waria; nama aslinya adalah Waluyo. Entah, itu hanya tebakan saya.

Saya bertanya, 'Terus masalah lu dengan Dea itu apa?'.

'Bentar, Gung. Lu harus tau dulu apa yang terjadi sebelum malam kemarin, supaya lu ngerti masalahnya'.

'Apa emang yang terjadi?' Tanya saya.

'Beberapa hari setelah nonton, Gue ajak Dea ke sebuah angkringan. Kami lalu memesan wedang jahe'

'Terus?'

'Wedangnya enak'.

'Oke ga penting. Terus?' Ucap saya. 


Putra lalu bercerita, 'Pada malam di angkringan itu, Dea sering banget main HP. Dea itu gak peduli gue ada di sebelahnya.'

'Lalu?'

Putra melanjutkan, 'Nah, beberapa menit kemudian. Ada temen-temenya Dea. Dea kayak yang grasak-grusuk gitu'.

'Grasak-grusuk?'

Putra kembali bercerita, 'Gue gak nemu kata yang pas, tapi itu yang terjadi. Kayaknya ada yang Dea sembunyiin dari gue, Gung'.

Saya langsung menyimpulkan di dalam hati, 'Oh, mungkin si Dea ini maling. Mungkin yang terjadi pada malam kemarin itu; rumah Putra kebobolan. Dan si maling adalah Dea. Lalu Dea terciduk. Kemudian Dea diarak warga keliling kampung pake mobil angkot'.

'Dea maling?' Tanya saya.

Dengan singkat, Putra menjawab, 'Iya, maling'. Lalu Putra kembali membuka suara, 'Dea maling hati gue'.

Oke, hipotesis saya salah. Saya kembali bertanya, 'Setelah itu?'

'Setelah itu', Putra menjawab, 'Pada minggu selanjutnya kami makan nasi goreng gila. Minggu berikutnya, kami makan di kedai mie pedas. Seperti biasanya, Dea gak mau gue traktir.'

Saya hanya mengangguk. Putra melanjutkan, 'Nah, saat di kedai mie pedas itu; gue mengungkapkan perasaan gue ke Dea.'


Saya bilang, 'Keren lu, Put---Putra'.


'Tapi', Putra menghentikan ucapannya sebentar, 'Tapi saat itu, Dea diem doang. Saat itu gue mikir, dia sakit perut akibat mie pedas yang sudah kami makan. Lalu, gue tanya ke Dea......'

Saya memotong, 'Lalu lu tanya ke Dea; Dea, apakah kamu ingin boker?'

'Enggak. Bukan itu, bego'. Putra mengelak, 'Gue tanya ke Dea. Dea pengen pulang?---Dea diem doang. Gue kan gak ngerti, ya'.

'Terus?' Tanya saya dengan sedikit penasaran.

'Ya, gue ajak aja Dea Pulang. Dea masih tetep diem doang. Gue jadi curiga Dea kerasukkan jin yang ada di tempat makan itu'.

'Emang ada jin di sana?'

Putra sewot, 'Ya mana gue tau. Aneh lu'.


Hening.


Saya meminta kejelasan dengan sedikit emosi, 'Terus apa yang sebenarnya terjadi pada malam kemarin, Putra?'.

'Sabar, gung.' Putra meminta saya sabar, 'Beberapa hari setelah makan itu, gue liat instastory Dea. Lo tau apa?'

Saya tanya, 'Apa?'.

'Dea nge-upload foto cowok...' Putra memberi jeda, 'Dan itu bukan gue'.

'Lah terus siapa? Katanya Dea lagi sendiri, terus itu siapa dong?'. Tanya saya dengan sedikit bingung.

'Awalnya gue gak tau, sampe akhirnya.' Putra menunduk, lalu kembali bercerita, 'Sampe akhirnya, malam kemarin gue main ke rumahnya Dea, dan Dea sedang tidak ada di rumah.'

'Kemana dia?' Tanya saya.

Putra menjelaskan, 'Sebelum ke rumahnya, gue menelepon Dea. Dan, yang jawab itu cowok. Gue gak tahu dia itu siapa, tapi besar kemungkinan dia lagi main ama Dea.'

'Terus, pas di rumahnya Dea lo ngapain? Kan gak ada siapa-siapa.' Ucap saya dengan penuh penasaran.

'Gue ngobrol sama ibunya Dea. Ngobrolin banyak hal.'

Saya tanya, 'Salah satunya?'

'Ngobrolin kura-kura terbaru milik Irfan Hakim'

'Seriusan? yang warna kuning bukan?' Tanya saya.

'Gak lah, bego. Ya kali.' Sewot Putra.


Setelah itu Putra bercerita kepada saya bahwa malam itu Putra dan ibunya Dea mengobrol banyak hal di teras rumahnya. Ibunya Dea memang sudah lama akrab dengan Putra, itu semua tentu saja karena Putra sering main ke rumahnya Dea. Putra bercerita bahwa di antara obrolannya dengan Ibunya Dea, Dea akhirnya pulang bersama sosok laki-laki yang tidak asing di mata Putra. Laki-laki itu ialah laki-laki yang fotonya sempat diunggah oleh Dea di instastory miliknya.

'Lalu gue dan laki-laki itu bersalaman, lalu gue tanya, Gung', Putra menjelaskan. 

'Tanya apa?'

'Gue tanya, ini yang tadi di telepon bukan? lalu ia jawab---Iya.'

Putra lalu memberitahu kepada saya bahwa jika saja malam itu Ibunya Dea sedang tidak ada di rumah, mungkin saja Putra sudah memukul laki-laki itu. Saya sedikit menahan tawa, mengapa? Ya, karena saya tahu Putra. Mana berani dia bertengkar seperti itu? Putra kan cengeng; cupang-nya mati saja dia nangis setengah jam.

Setelah itu, Putra izin pamit tuk pulang ke rumahnya. Motor Honda 70-nya sudah menunggu di depan rumah Dea. Canggung sangat terasa antara Dea, Putra dan laki-laki yang tidak saya kenali itu. Tapi yang saya salut dari Putra adalah, malam itu ia sangat tegar.

Malam itu, di antara motor Honda 70-nya Putra dan depan gerbang rumahnya Dea, Putra dan Dea berpegangan tangan. Lalu, Putra berterima kasih. Putra masih ingat sekali bahwa pada suatu malam sebelumnya ia berjanji untuk tidak pergi meninggalkan Dea. Putra menatap Dea dan meyakinkan padanya bahwa ia akan ada jika Dea membutuhkannya.

Putra tersenyum lalu pulang ke rumahnya. Malam itu, Honda 70-nya melaju memecah jalanan yang sunyi.

Bel tanda istirahat sudah selesai berbunyi saat itu, Putra bertanya kepada saya di akhir obrolan jam sembilan; untuk genggaman dan tatapan yang hangat, mengapa terasa sedingin itu?

***



Bersambung. 

Bagikan Ke:    Facebook Twitter

Dua

Hidup memang seringkali berada di antara pilihan yang membingungkan. Pada masa-masa akhir saya di sekolah menengah kejuruan: banyak yang sedang sibuk mempersiapkan diri mereka untuk seleksi masuk universitas, banyak juga yang bingung mau lanjut ke mana. 

Perihal masuk universitas, anak-anak SMK sering dipandang sebelah mata. Ada yang bilang, 'Ngapain kuliah?' atau yang paling sering saya dengar, 'Lulus SMK? Kerja, lah!.'

Saya sadar, setiap manusia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena itulah kita tidak berhak untuk menyalahkan pilihan mereka. Jadi, melanjutkan kuliah? tidak salah. Berkerja? tidak salah. Berkaya? tidak salah.

Tidak ada yang salah di semua itu. 

Selain itu, ada juga yang lebih memilih untuk tidak mempublikasikan pilihan mereka dan menyimpannya sendiri karena satu dan lain hal. Saya termasuk di dalamnya. 

Kalau kamu tanya, mau ke mana saya setelah lulus sekolah? Saya hanya akan jawab, mau hidup menjadi manusia. 

Karena kalau saya ceritakan kepada mereka yang bertanya pun percuma. Tidak mendapat apa-apa. Tidak rugi, tidak untung. Lebih baik tidak sama sekali. 

Karena, sering sekali saya terlalu mengurusi hidup orang lain. Sering sekali saya berpikir bahwa pilihan yang saya tawarkan adalah pilihan terbaik yang harus orang lain pilih. Padahal, siapa saya? 

Mengapa demikian, karena saya sadar diperlakukan seperti itu kurang mengenakan. Sejatinya, manusia adalah makhluk yang berdiri di kakinya sendiri; memiliki ego; berjalan semaunya; dikehendaki semuanya. 




Bagikan Ke:    Facebook Twitter