Misteri Bau Tahi

Ada yang tahu Sherlock Holmes? Seorang tokoh detektif yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle; seorang dokter yang juga pengarang. Bersama dr. Watson, Sherlock Holmes memecahkan banyak misteri dan menyelesaikan kasus. Mereka tinggal bersama di sebuah rumah milik nyonya Hudson, dari situlah perjalanan mereka berlanjut.

Sherlock Holmes sudah dua kali difilm-kan beberapa tahun lalu oleh Warner Bros, kabarnya; akan ada film Sherlock Holmes yang ketiga. Kemudian setelah itu, Sherlock Holmes disajikan kembali menjadi series TV, namun di series itu; Sherlock Holmes dan dr. Watson hidup di masa kini, yang mana; televisi, telepon, internet dan lambe turah sudah diketahui banyak orang.

Di Sherlock Holmes Series, Sherlock dan dr. Watson pun gemar menulis mengenai kasus yang mereka tangani di internet, tepatnya di website mereka masing-masing.

Setelah menonton beberapa episode Sherlock Holmes Series, pikiran saya terbuka. Saya mulai menjadi manusia yang lebih memerhatikan hal-hal kecil; detail; analisis.

Saya suka cara mereka merangkai bagian-bagian kecil untuk menyelesaikan kasus yang datang kepada mereka.

Setelah itu, sebuah kasus datang kepada diri saya.

***

Hari itu hari rabu, 6 Februari 2019. Pukul setengah satu siang, saya berangkat ke sekolah. Saya sekolah di SMK, jurusan teknik. Teknik Kendaraan Ringan tepatnya. Kelas XII, akan ujian. Pusing.

Hari itu, pembelajaran di kelas dijadwalkan dimulai pukul satu. Jadi, bisa dibayangkan; beberapa jam sebelumnya teman kelas saya mungkin berleha-leha di kasur mereka masing-masing sembari minum air kelapa. Entahlah, itu hanya tebakan saya.

Saya tiba di sekolah pukul 12:45, sengaja lebih cepat agar bisa berinternet ria di sekolah dengan gratis. Walau pun demikian, rasa malas seringkali datang kepada saya jika masuk siang seperti itu. Walau pun di hari itu hanya satu pelajaran, namun, jam pulang pukul lima sore.

Beberapa puluh menit kemudian, teman-teman saya datang. Tidak ada yang mencurigakan dari mereka. Sama saja seperti biasanya, ada yang datang menggunakan sepeda motor lalu motornya dititipkan di parkiran sekolah, ada juga yang hanya berjalan kaki karena rumahnya dekat.

Jam pelajaran pun dimulai, hari itu; jadwalnya kami agar bisa menguasai beberapa materi yang akan diujikan di ujian kompetensi yang akan dilaksanakan pada bulan depan.

Di jurusan saya, materi ujian kompetensi ada tiga secara umum. Masing-masing materi diuji secara tertulis dan praktik. Tidak seperti tahun lalu, kali ini ujian kompetensi berstandar nasional, itu artinya lebih sulit jika boleh dibandingkan. Jika saya lulus di ujian kompetensi, saya akan mendapatkan sertifikat berstandar nasional. Jika tidak lulus, saya hanya dapat kertas bekas gorengan.

Eh, enggak, deng. Canda.

Karena waktunya terbatas, hari itu masing-masing dari kami hanya fokus di satu dari tiga materi yang diujikan. Hari itu, saya fokus di materi sistem pendingin di kendaraan. Terlihat sederhana, tapi nyatanya lumayan sulit.

Saya tidak sendiri di materi tersebut, ada enam teman saya yang lainnya. Sisanya, di materi lain. Hari itu, kami memutuskan untuk fokus di ujian praktiknya terlebih dulu. Karena di ujian yang sebenarnya, kami hanya diberi waktu satu jam. Secara teknis, 30 menit untuk ujian praktik, 30 menit sisanya untuk ujian tulis. Jika kami terlalu lama pada saat praktik, ujian tulis akan tergesa-gesa. Bisa-bisa kami gagal, lalu jadi gembel.  Huft.

Setelah menyiapkan alat praktik, kami lalu bergegas menuju ruang praktik. Di ruangan tersebut, ada satu kelompok lain dengan materi yang berbeda. Kami tidak keberatan untuk berbagi tempat.

Beberapa menit kemudian, bau tahi tercium di ruangan tersebut. Saya panik. Kami panik. Kami langsung saling mencurigai satu sama lain.

Saya terdiam beberapa menit. Saya menganalis.


via GIPHY


Lalu, berikut adalah yang dapat saya simpulkan;

1. Itu bau tahi kucing.
Saya tahu baunya. Saya tahu karakteristiknya. Walau pun saya tidak melihat wujudnya, teman-teman yang lain setuju.

2. Tahi itu di/ter-bawa ke ruang praktik. 
Saya curiga ada yang menginjaknya di luar ruangan lalu ia masuk... bersama tahinya. Mengapa demikian?

(a)Pertama, di sekolah saya jarang ada kucing; (b)Kedua, lantai ruangan dilapisi keramik; kucing gak mungkin boker di keramik. Kucing seringnya menggali tanah, lalu mengubur tahinya. Saya tahu karena saya sering nonton itu di Youtube; (c)Ketiga, kami selalu menggunakan sepatu karena sepatu adalah salah satu alat pelindung diri.

3. Tahi kucing itu tercium lumayan segar. Artinya, baru saja dibuang.

4. Tidak ada kucing sejauh mata memandang.

5. Sebelum kami, ruangan itu dipakai oleh kelas lain. Dan, mereka bilang, 'tidak ada bau tahi.'

Lalu, siapa pelakunya? siapa yang membawa tahi itu masuk?

6. Jumlah orang di ruangan tersebut adalah 14 orang, masing-masing mengenakan sepatu. Sepasang sepatu adalah dua.

Jika dihitung secara matematis dengan rumus permutasi, maka hasilnya;



182 Kemungkinan.

Gilak, banyak banget kemungkinannya. Pusing.

Oke kita cari cara lain.

7. Jika dilihat dari karakter tanah, sulit untuk kucing boker di sekolah. Karena, jarang sekali menemukan tanah yang mudah untuk digali, pun temperaturnya pas untuk kucing dan tempatnya yang strategis.

8. Kemungkinan tahi kucing itu dibawa dari tempat lain

Tempat yang dekat dari sekolah. Dibawa oleh orang yang akan ke kelas ini. Atau singkatnya, dari salah satu teman saya.

Jika kamu bilang ini terlalu sederhana, mari saya perjelas;

9. Di kelas saya, banyak siswa yang sering tidak masuk tanpa keterangan. Dari pernyataan wali kelas saya, karena malas. Malas; tidak ingin sekolah.

Sampai saat ini, kita dapat beberapa petunjuk. Si pelaku adalah teman saya; rumahnya dekat.

10. Saya sudah tahu siapa pelakunya. Ia adalah Gaga(nama disamarkan).

Mengapa Gaga? Karena, dia tinggal di dekat sekolah. Jarak dari rumahnya ke sekolah adalah 564 m. Butuh waktu sekitar 7 menit ke sekolah hanya dengan berjalan kaki. Kemungkinan pertama, dia menginjak tahi kucing di jalan perumahan menuju sekolah. Kemungkinan kedua, dia sengaja menginjak tahi kucing. 

11. Kalau tidak sengaja menginjak tahi kucing, mengapa Gaga tidak mencium bau tahi itu ketika ia jalan kaki menuju sekolah?

Hari itu Gaga tidak flu, penciumannya normal. Jadi, ia melakukan ini dengan sengaja;

12. Kalau soal sengaja menginjak tahi kucing, mengapa Gaga berlaku keji seperti ini?

Dari cermat saya, ada beberapa alasan;

(1) Kita bisa lihat dari absensinya, dari 4 minggu pertemuan dalam sebulan lalu, dia tidak masuk 5 kali tanpa keterangan.

Dia malas. Lalu, dia mungkin dimarahi wali kelas. Dia dendam.

Wali kelas saya juga mengajar di jurusan pada hari jum'at. Ruangan yang wali kelas saya pakai adalah ruangan yang berbau tahi kucing. Di hari kamis, setahu saya tidak ada yang menggunakan ruangan itu. Jadi, kemungkinan besar dia ingin membuat wali kelasnya tak nyaman.

(2) Gaga lumayan pintar, dia pernah cerita bahwa dia pernah juara kelas saat SD. Jadi, kemungkinan juga, selain ingin balas dendam. Ia ingin membuat siswa lain di kelas saya tidak fokus belajar karena bau tahi kucing. Kemudian, Gaga mengambil kesempatan itu sehingga ia dapat kembali menjadi juara kelas seperti dulu.

13. Mengapa Agung Rizqi dan guru yang mengajar tidak dicurigai?

Pertama, saya sudah cek; sepatu saya tidak bahu tahi kucing. Suer.

Kedua, guru yang mengajar juga bilang bahwa ia tidak menginjak tahi kucing.

14. Kok gak diperiksa dengan benar apakah bapak/ibu guru itu tidak menginjaknya?

Yaaaa, giamana sih ceknya. Masa saya bilang, 'Pak, boleh saya cium sepatu bapak?'

15. Siswa yang lain tidak ditanya?

Tidak ada yang mengaku, karena si pelaku mungkin akan di-bully. Atau lebih parah, diarak keliling sekolah.

***

Jalan pikiran kriminal memang sulit ditebak. Saya Agung Rizqi, jumpa lagi. Jika ada pendapat lain, silakan komentar di kolom yang disediakan.



Jatuh Cinta Itu Biasa Saja




Jauh sebelum pikiran saya dipenuhi dengan urusan masa depan seperti layaknya seorang remaja yang serius. Saya juga pernah mengalami fase remaja yang dipenuhi dengan cinta-cintaan.

Fase cinta-cintaan itu mulai saya rasakan ketika SMP. Cinta-cintaan di sini maksudnya hasrat tuk berpacaran. Nggak mungkin kan anak SMP mendefinisikan cinta dengan menikah muda.

Entah. Bisa saja saya salah. Bisa saja di sisi lain bumi ini, ada seorang yang baru saja lulus SMP, terus ditanya sama temennya, 'Mau lanjut ke mana sob?'

Lalu, seseorang itu menjawab dengan lantang, 'Mau membangun rumah tangga'
Gila aja kalau itu beneran terjadi. Beda banget dengan saya. Bangun rumah pake lego aja seringnya rubuh. Apalagi rumah tangga.

Walaupun, faktanya ketika SMP saya sering gagal menjalin hubungan itu. Saya masih ingat sekali; dari sembilan cewek yang saya tembak, tujuh cewek nolak saya mentah-mentah. Sisanya berhasil saya pacari. Di sini, saya tidak akan menceritakan tujuh cewek-sialan-yang-sok-cantik itu, tapi, menceritakan dua cewek yang mau hidupnya pernah ada saya di dalamnya.

Mari kita mulai dengan cewek yang pertama. Saat itu, saya masih kelas dua SMP. Umur saya masih 14 tahun, tapi, jahitan bekas sunat sudah kering dari lama. Oke, lupakan yang terakhir.

Saat itu, saya baru punya akun Facebook yang sering saya akses dari warnet. Saya masih ingat, username yang saya pakai adalah Raden Agung Rizqi Efendi. Gila. Pakai Raden, lho. Kayak anggota kerajaan.

Anggota kerajaan mana yang main facebook di warnet?

Awal-awal main Facebook, saya terobsesi untuk mempunyai banyak teman. Ya, walaupun tidak berguna juga punya banyak teman. Teman saya contohnya, dia punya banyak teman di Facebook. Tapi, pas dia jatuh dari sepeda dan kakinya patah. Gak ada tuh temannya dari Facebook yang jenguk. Termasuk saya.

Karena itulah, saya menemukan sebuah akun dari cewek, nama akunnya Reni. Cantik. Dan dia satu sekolah dengan saya. Saya lihat profilnya, saya baca statusnya. Lucu juga.

Saya lihat kolom status hubungannya, dan yang terpampang nyata adalah: lajang.

Karena emang seperti. Dulu, banyak banget orang yang mengumbar hubungannya di Facebook. Ya, walaupun banyak juga yang bohong. Saya masih ingat, teman SD saya juga pernah bohong, saya tidak mau sebut namanya. Mengapa? Karena di akun Facebooknya dia menyatakan telah menjalin hubungan dengan... Ariel Tatum.

Kalaupun itu benar, ya, saya bersyukur karena mungkin saja sekarang mereka sudah putus, karena tidak ada lagi kabar tentang mereka. Dan teman saya tadi mungkin frustasi lalu gantung diri. Mungkin, ya. Bisa saja salah.

Balik lagi ke akun Facebook cewek yang tadi. Nama akunnya Reni. Udah, itu saja. Tidak ditambah nama Raden di depannya. Itu artinya, dia bukan anak gaul.

Tapi tak apa, saya masih suka dia. Lalu, saya meminta pertemanan. Beberapa menit kemudian, Reni menerimanya. Saya bahagia setengah mati.

Dengan nyali sosial media, saya mengirimkan pesan padanya di Facebook. Saya mulai dengan, 'Halo'

Lalu, dia menjawab, 'Ciapa nih?'

Jijik.
Alay beut.

Dia ganti semua huruf "S" jadi huruf "C". Saya curiga itu sudah jadi kebiasaannya. Saya curiga kalau dia lagi pesan nasi uduk, dia akan bilang, 'Bu, naci uduknya catu pake cambel tapi jangan pedec-pedec'

Jujur saya masih heran. Mengapa dia tanya, 'Ciapa nih?'

Karena di kolom chat kan sudah tertera nama saya. Awalnya, saya ingin balas, 'Kamu, buta aksara ya?'

Tapi, karena saya tidak mau kehilangan kesempatan ini. Sayapun menjawab pertanyaan bodohnya.

Lalu, kami bertukar informasi satu sama lain. Saya jadi tahu, dia pernah pingsan saat upacara. Dia jadi tahu, saya pernah mau dipalak oleh adik kelas.

Setelah itu, sayapun jadi tahu bahwa dia adalah murid kelas 8A. Beda dengan saya yang jadi salah satu murid di kelas 8G, yang merupakan kelas favorit kedua pada saat tahun ajaran tersebut. Itu adalah salah satu hal yang bisa saya sombongkan kepada Reni setelah kemampuan saya yang bisa minum jamu Buyung Upik dua gelas sekaligus.

Setelah itu, Reni meminta pin BBM. Saya bengong. Saya belum punya itu. Jangankan BBM, Handphone saja masih pinjam dari orang tua. Karena itu, saya jelaskan pada Reni, satu-satunya media komunikasi yang bisa kita pakai, ya, Facebook ini. Lagipula, 'di sekolah kan kita bisa sering bertemu', Saya menjelaskan di salah satu percapakan.

Tapi, itu semua tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi, jarak kelas saya dengan kelas Reni itu jauh. Ditambah lagi, Reni adalah salah satu cewek yang hits di sekolah saya. Reni punya geng, dan, kalau gengnya sedang ngumpul. Berisik banget. Sangat mirip seperti gerombolan Owa Jawa yang lagi orasi di jalan.

Dan itu semua sangat berbeda dengan pribadi saya. Ketika kelas dua SMP, saya cupu banget. Kalau mata kiri saya ditonjok, bisa nangis dua jam.

Tapi, perbedaan-perbedaan itulah yang membuat saya yakin bahwa saya bisa mendapatkan hatinya Reni. Benar saja, kami lalu berpacaran. Saya menyatakan cinta di pesan Facebook. Lalu, Reni mengubah status lajangnya menjadi berpacaran dengan: Raden Agung Rizqi Efendi.

Kalau saja saya bisa kembali lagi ke masa lalu, saya akan mengganti username Facebook saya. Entah, mungkin di masa depan, time travel sangat bisa terlaksana. Tapi, dengan menulis inipun, saya bisa kembali  beberapa tahun ke belakang.

Setelah berpacaran selama beberapa minggu, kami lalu putus. Dan tentu saja, Reni yang mengajaknya. Saya mengiyakan karena memang saya rasa, kami sangat tidak cocok saat itu. Saat itu, saya tidak patah hati. Mengapa? karena saya jatuh cinta dengan biasa saja.

***

Setahun beralalu, saya sudah move-on dari Reni. Di tahun ketiga di SMP, saya masuk ke kelas 9G, yang merupakan kelas favorit kesatu di tahun ajaran itu. Itu artinya, anak-anak "pintar" yang dipilih dari kelas dua di tahun sebelumnya, dikumpulkan menjadi satu kelas. Termasuk saya di dalamnya.

Seharusnya, saya bangga akan hal itu. Tapi, kok biasa saja ya? Mungkin, karena saya tidak terlalu berharap masuk ke dalam kategori itu.

Namun, yang saya banggakan adalah, di kelas sembilan, saya punya handphone baru. Handphone yang saya maksud adalah Asus Zenfone C, Itu adalah Handpone tercanggih yang saya punya saat itu. Dan saat itu pula, BBM masih banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, termasuk saya.

Awalnya, saya berpikir bahwa anak-anak pintar itu penampilannya tidak menarik. Anak pintar dalam imaji saya adalah: penampilannya culun, bawa banyak buku, pakai kacamata, dan punya banyak brosur Primagama di tasnya.

Tapi tidak juga. Buktinya, saya menemukan seorang cewek yang kebetulan sekelas dengan saya dan dia menarik hati saya dan membuat saya memandangnya dalam waktu yang cukup lama.

Sebut saja namanya Riri. Sebetulnya, saya masih ingat sekali namanya, tapi tidak saya publikasikan di sini karena itu permintaannya.

Dia adalah anak seorang guru di sekolah saya. Awalnya saya hanya sebatas tahu, menyapapun enggan. Tapi karena saya dan Riri duduk berdekatan. Perlahan saya berani untuk mengajaknya berbicara.

Riri memiliki tubuh yang mungil, bola mata yang jernih, dan senyum yang tipis.  Entahlah, saya memang tidak hebat dalam mendeskripsikan seseorang. Tapi yang jelas, saat itu Riri sangat suka dengan K-Pop. Karena itu, diapun menyukai drama korea, hingga update perihal artis korea. Berbeda jauh dengan saya. Yang saya tahu dari Korea hanya harga kedelai di Seoul dan Kim Jong Un.

Tapi, itu semua tidak membuat saya gentar. Saya berambisi, saya harus bisa menarik hatinya, minimal menarik perhatiannya. Saya bernasib baik, saya dan Riri piket kelas di hari yang sama, hari rabu. Itu artinya, setiap rabu saya bisa mendekatinya. Disela-sela saya menyapu lantai, saya bisa melempar senyum pada Riri. Ya, walapun. Kalau dilihat dari sekarang, dulu saya seperti orang gila yang rajin menjaga kebersihan kelas.

Setelah semua itu, saya memberanikan diri untuk menghubunginya lewat BBM. Kebetulan, kami punya grup kelas. Dan dari sanalah saya mendapatkan kontaknya Riri.

Saya memulai percakapan dengan Riri, 'Ping'

Beberapa menit kemudian Riri menjawabnya, 'Pong'

Saat itu, ping-pong terdengar sangat romantis.

Lalu, setelah itu kami berbalas pesan. Biasanya pukul setengah sembilan malam  berhenti, Riri selalu pamit untuk tidur karena menjadi seorang anak guru artinya harus disiplin waktu.

Beberapa minggu setelahnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa. Kali ini, saya sangat takut ditolak mentah-mentah. Karena saya belum sesemesterpun di kelas sembilan. Itu artinya kalau saya ditolak Riri, beberapa bulan ke depan sangat canggung sekali.

Tapi, sekali lagi nasib baik ada pada diri saya. Riri pernah bilang bahwa dia suka saya karena saya lucu dan baik. Sudah, itu saja. Itu juga yang membuat kami berdua berpacaran. Karena saya dan Riri sekelas, kami memutuskan untuk menyembunyikan hubungan itu. Tidak ada yang tahu, hanya kami dan sapu lidi di hari rabu.

Jujur, menjalin hubungan seperti sulit sekali. Karena itu, cowok yang mau mendekati Riri tidak bisa saya lawan. Serta di kelas, kami juga berbicara seperlunya. Kadang hanya saling melempar senyuman.

Sampai beberapa bulan setelahnya, teman kami mengetahui hubungan itu. Sebut saja Desi dan Yuna, mereka mengetahuinya dari hadphone Riri; mereka tahu password lockscreen-nya dan membuka percakapan kami di BBM. Jujur, kalau mereka bukan teman saya. Mereka akan saya laporkan ke polisi atas tuduhan penyadapan.

Setelah itu, di sela-sela kegiatan sekolah Desi bertanya, 'Kamu pacaran, ya, sama Riri?'
Saya bengong. Lalu membuka suara, 'Engga'

Desi gebrak meja, 'Jangan bohong!'

'IYA' kata saya, latah.

Desi dengan tatapan tajam dan kedua tangannya menekan meja berbisik kepada saya, 'Jangan sakiti, dia'

Saya mengangguk, lalu, Desi tersenyum. 'Kenape, lu?' Tanya saya. Lalu, dengan percaya diri, Desi menjawab, 'makan-makan, ya'

Kampret, memang.

Setelah itu, bukan cuma sapu lidi di hari rabu yang tahu hubungan kami, melainkan Desi dan Yuna. Beberapa bulan setelahnya, jumlahnya semakin banyak. Dan, ketika kami ditanya soal hubungan kami oleh orang lain, kami hanya tersenyum ringan.

Seperti biasanya, hubungan yang dijalin saat sekolah, sering sekali putus ketika lulus. Begitu juga dengan saya dan Riri.

Saat itu, ujian nasional telah dilaksanakan. Yogyakartapun dipilih oleh sekolah kami sebagai tempat perpisahan. Yang ikut hanya kelas 3, para guru, dan tentu saja supir bus yang mengantar kami ke sana.

Singkat cerita, saya dan Riri duduk berdekatan dalam satu bus. Kami mengobrol banyak hal ketika yang lain sudah tidur. Tidak seperti biasanya perjalanan jauh menuju Yogyakarta seasik itu. Malam hari. Lampu-lampu jalan tol. Supir yang masih mengemudi. Semuanya seakan menemani kami.

Pukul setengah sepuluh malam, Riri akan tertidur. Gesturnya berbicara bahwa dia kedinginan saat itu, lalu, saya meminjamkannya jaket. Riri terseyum, lalu dia memejamkan mata. Awalnya saya tidak menyangka bahwa itu benar-benar perjalanan yang membawa kami menuju perpisahan.

Setelah itu, kami sangat menikmati Yogyakarta. Pantainya, makanannya, suasananya, sampai sudut ruangan Keraton Yogyakarta meninggalkan makna yang nyata bagi kami. Kemudian, setelah beberapa hari menikmati Yogyakarta. Kamipun pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Rumah yang nyaman, dan tentu saja: rumah itu bukan lagi kami.

Beberapa minggu setelahnya, Riri mengajak saya berdiskusi. Lalu kesimpulan yang diambil adalah kami berpisah. Karena, LDR mungkin tidak akan berhasil. Pasalnya, kami tahu kami pasti akan menemukan orang baru. Hati baru. Rumah baru. Tujuan Baru.

Setelah itu, jatuh cinta tetap biasa saja; patah hatinya saja yang menyiksa. 


***
 Setelah tulisan ini diunggah, saya iseng membuat video sajak sederhana dari tulisan Jatuh Cinta Itu Biasa Saja dengan judul yang sama. Silakan nonton. Lov-yu.